HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN PERAWATAN DIRI PADA ANAK TUNAGRAHITA UMUR 10-12 TAHUN

iiiiTunagrahita merupakan bagian dari individu yang memiliki kebutuhan khusus. Salah satu cirinya adalah memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, sehingga kemampuan akademik mereka mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan individu normal yang seusianya. Mereka kurang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosial dan miskin dalam pembendaharaan kata. Namun, mereka memiliki perkembangan fisik yang sama dengan anak normal pada umumnya. Menurut Bendi (2006) anak tuna grahita cacat secara mental dan mempunyai hambatan secara fisik, maka sudah semestinya perlu perhatian lebih. Anak-anak tuna grahita biasanya mengalami kesulitan berkomunikasi, merawat diri dan sulit mengerjakan aktivitas sehari-hari yang di karenakan perkembangan otak dan fungsi sarafnya tidak sempurna.

Keadaan kecerdasan yang rendah bagi anak tuna grahita mengakibatkan permasalahan yang konpleks dalam kehidupan sehari-harinya, terutama dalam hal perawatan diri. Bendi (2006) anak tunagrahita sangat kurang dalam hal menjaga kebersihan kesehatan diri serta lingkungan sekitar. Sehingga cenderung rentan terhadap penyakit, permasalahan tersebut menyebabkan anak tunagrahita lebih tergantung pada orang lain untuk beraktifitas sehiri-hari masih memerlukan bimbingan dan pengawasan dari orang lain.

Perawatan diri anak adalah salah satu kemampuan dasar dalam memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, anak dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes, 2006). Sedangkan ketidakmampuan dalam merawat diri disebut defisit perawatan diri yaitu gangguan kemampuan dalam merawat diri seperti mandi, berhias, makan dan toiliting). Menurut Poter dalam Wartonah (2005), kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.

Sekolah Dasar Luar Biasa B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan adalah salah satu sekolah yang memberikan pendidikan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), sekolah ini paling banyak mendidik anak tuna grahita, dari jumlah keseluruhan dari kelas 1 sampai kelas 6 terdapat 68 anak berkebutuhan khusus dan salah satunya adalah anak tuna grahita sebanyak 35 anak terdiri dari 10 anak laki-laki dan 25 anak perempuan. Hasil pengamatan awal di SDLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, dari hasil wawancara dan observasi yang sebelumnya dilakukan oleh peneliti pada tanggal 10 – 14 September 2013 didapatkan dari 10 siswa diamati dari kelas 4 sampai kelas 6, terdapat 5 siswa tuna grahita yang memiliki perawatan diri baik dapat dilihat dari pakaian yang rapi, mampu dalam memegang dan menggunakan sikat gigi juga masalah toiliting dapat melakukannya sendiri. Namun masih ada 4 anak tunagrhita yang memiliki kebersihan diri kurang baik, hal ini terlihat dari cara menggosok gigi, kesulitan memposisikan sendok dan masalah toiling juga mash perlu pendampingan dari orang lain, sedangkan 1 anak yang perawatan dirinya sangat kurang terlihat dari segala tindakan atau aktifitas masih memerlukan bantuan atau pendampingan orang lain.

Selain observasi terhadap anak tunagrahita peneliti juga melakukan wawancara dengan 5 orang tua siswa tunagrahita yang mendampinginya, hasilnya didapatkan 1 orang tua mengatakan mereka selalu membantu anaknya dalam segala kegiatan sehari-hari, orang tua berpendapat bahwa anaknya tidak mampu berbuat apa-apa sehingga segala aktifitasnya harus dibantu orang tua. Menurut Suhaida (2005) Orang tua bersikap otoriter segala apa yang dilakukan anaknya harus sesuai keinginan orang tua, anak tidak boleh melakukan kegiatan apapun karena dianggap tidak mampu hasilnya walaupn dari segi penanpilan anak terlihat baik tapi dalam beraktifitas anak tidak bisa melakukannya sendiri. Sedangkan 2 orang tua anak tunagrahita bersikap permissive dalam arti orang tua membiarkan anaknya melakukan aktifitasnya sendiri walaupun hasilnya berantakan kerana orang tua jenis ini menggangap anaknya wajar tidak dapat merawat dirinya sendiri dan 2 orang tua bersikap demokratis menurut Suhaida (2005) pola asuh demokratis dalam arti orang tua akan membantu anaknya bila apa yang dilakukan anaknya dianggap tidak mampu, selain itu orang tua juga terus memberikan latihan-latihan dan pengawasan agar anak dapat melakukan aktifitas sendiri.

Berbeda dengan anak yang normal pada usia sekolah sudah bisa melakukan segala perawatan diri sendiri sehingga pola asuh orang tua hanya sebatas pada kemandirian anak dalam hal mengembangkan kreatifitas dan bakatnya. Menurut Astiati (2007) anak usia sekolah (4-10) tahun telah memiliki suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, baik yang terkait dengan aktivitas bantu diri maupun aktivitas dalam kesehariannya, tanpa tergantung pada orang lain. Sedangkan perawatan diri pada anak tuna grahita atau mental disabilitas lebih memerlukan dukungan ataupun peran serta guru dan orang tua dalam mengarahkan, membimbing dan melatih anak tunagrahita. Menurut Pujaningsih (2006) Anak tuna grahita dengan IQ dibawah 70 kemandiriannya dengan anak normal, usia anak tuna grahita 10 tahun sama dengan kemampuan anak umur (3-5) tahun anak normal. Maka anak tuna grahita memerlukan dukungan orang tua untuk terus berkreativitas dan mengembangkan potensi yang telah mereka miliki. Supaya kelak anak tunagrahita sendiri dapat hidup mandiri dan mampu bersaing dengan masyarakat umum.

Anak tunagrahita dengan kecacatan yang dimiliki anak menuntut orangtua untuk lebih dahulu memenuhi kebutuhan anak mereka yang mengalami kecacatan, sehingga hal tersebut membentuk suatu persepsi yang kemudian baik sadar maupun tidak mempengaruhi dalam penerapan pola asuh. Disisi lain anak-anak tuna grahita memiliki keinginan di dalam dirinya untuk mempunyai kemampuan yang sama dengan anak normal dan dengan latihan dan bimbingan yang konsisten akan dapat meningkatkan kemampuan perawatan diri pada anak tuna grahita (Yazmin, 2011).

Faktanya bahwa persepsi orang tua terhadap kecacatan anak (tunagrahita) dapat mempengaruhi penerapan pola asuh orangtua. Penerapan pola asuh tersebut terjadi dikarenakan pandangan orang tua dalam melihat keadaaan anak, di mana orang tua beranggapan bahwa anak tidak dapat melakukan apapun, membutuhkan pertolongan dan simpati. Inilah yang merupakan permasalahan yang hendak diteliti oleh peneliti, menurut Wahyunita (2010) dalam penelitian tentang anak tuna grahita diketahui orang tua yang memiliki anak tuna grahita memiliki pola asuh yang berbeda-beda seperti pola asuh otoriter karena menganggap anaknya tidak mempunyai pikiran atau tingkah laku yang normal sehingga memperlakukan anak hanya sesuai kehendak orang tuanya, selain itu pola asuh permisif orang tua mengutamakan kebebasan anak sepenuhnya untuk mengungkapkan dan mendapatkan keinginan serta kemauannya dimana orang tua tidak memberikan tanggung jawab kepada anak, karena pola komunikasi yang terjadi yaitu satu arah dari anak dan pola asuh demokratis orangtua selalu membantu anaknya tapi juga tanpa henti memberikan latihan atau stimulan agar anaknya menjadi lebih mampu bertanggung jawab.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemampuan perawatan diri pada anak tunagrahita di SDLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa alasan peneliti tertarik dengan tema ini adalah peneliti berasumsi bahwa perlakukan orang tua di rumah akan mempengaruhi kemampuan anak tunagrahita dalam perawatan diri, anak tuna grahita memiliki keternatasan dalam melakukan perawatan diri seperti kebersihan dan aktifitas sehari-hari, maka perlu pola asuh yang berbeda dengan pola asuh anak yang normal.

full skripsi here : imagesunduh

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s