Penerapan Model Kooperatif Tipe Make a Match

PTKPembelajaran IPA merupakan bagian dari pendidikan, karena ciri-ciri umum sebagai sebuah kegiatan yang bersifat mendidik tercakup pula didalamnya. Ciri umum itu meliputi adanya interaksi antara pendidik dan peserta. Pihak pendidik memperoleh otoritas berdasarkan kewenangan dan kewibawaan yang dimilikinya, secara sadar untuk melaksanakan pengaruh terhadap peserta didik. Pengaruh itu berlangsung melalui pengalaman belajar yang berfungsi sebagai stimulus untuk membangkitkan respon belajar bagi peserta didik. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran IPA yang dinyatakan dalam silabus KTSP 2006 sebagaimana berikut:

  1. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta     kejadian di lingkungan sekitar.
  2. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab,   bekerja sama dan mandiri.
  3. Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2006).

Salah satu usaha pemerintah dalam membenahi mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan menetapkan KTSP tahun 2006. Sesuai dengan PP Menteri Pendidikan No. 22, 23, dan 24 tahun 2006, KTSP dikembangkan untuk mengatasi masalah yang terjadi di dunia pendidikan yakni lemahnya proses belajar dan pelaksanaan pembelajaran.

Menurut James B.Brow (dalam Suryosubroto, 2009:3) ”Tugas dan peranan guru adalah menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, serta mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa”. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut dengan baik, maka guru harus memiliki dan menerapkan kompetensi sebagai pendidik.

Pendidikan sangat berperan besar dalam usaha menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkemauan dan berkemampuan untuk meningkatkan kualitasnya secara terus menerus dan berkesinambungan agar tercapainya tujuan pembangunan nasional. Hal ini senada dengan pendapat Usman (2001:2) yang menyatakan bahwa: Jika tidak mampu mengembangkan sumber daya manusia suatu bangsa tidak akan dapat membangun negaranya. Kemampuan membangun negara sangat tergantung pada kualitas manusiasebagaisubyek pembangunan.

Harapan guru setelah mengajar IPA adalah siswa dapat memahami, menguasi dan mengerti pada konsep-konsep IPA yang telah diajarkan, siswa memiliki kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah dan dapat mengkomunikasikannya sebagai aspek penting dalam kecakapan hidupnya kelak apabila ia terjun sebagai bagian dari masyarakat.

Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan yang disarankan dalam pengajaran IPA, karena pendekatan keterampilan proses mengarah pada pengembangan kemampuan fisik, mental, dan sosial siswa yakni: keterampilan pengamatan, mengklarifikasikan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan.

Di antara materi dalam pembelajaran IPA adalah materi yang berkaitan dengankonseppesawat sederhanadi kelas Vsekolah dasar. Berdasarkan data dan observasi awal dalam materipesawat sederhanakelas V SDN Handil Gayam 1 Kecamatan Bumi Makmur Kabupaten Tanah Lautpada dua tahun terakhir ini mendapatkan nilai di bawah standar ketuntasan belajar khususnya pada tahun pelajaran terakhir 2010/2011 yaitu rata-rata kelas (54,00) di bawah KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran IPA Kelas V yaitu (60,00).

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu model pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertnetu saja. Selain itu, melalui pemilihan model pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama pelajarn IPA.

Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa adalah model pembelajaran make a match. Pembelajaran make a match merupakan model pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), yaitu pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) yang mengutamakan kerja sama dan kecepatan di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.Model pembelajaran make a match merupakan strategi yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian materi barupun tetap bisa diajarkan menggunakan model pembelajaran make a match, dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan (Dzaki, 2010: 4).

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Kooperatif Tipe Make a Match sebagai upaya meningkatkan hasil belajar konsep pesawat sederhana pada siswa

full PTK here:

DOWNLOADunduh

Iklan
Pos ini dipublikasikan di IPA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s