unsur-unsur stilistika, diantaranya unsur fonologis, unsur gramatikal, unsur leksikal, majas, dan citraan dalam kumpulan lirik lagu Sarjana Muda karya Iwan Fals

iiiiStilistika pada prinsipnya selalu mengkaji pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis termasuk penyair, aliran sastra, atau yang menyimpang dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa yang dianggap normal, baku, dan lain-lain. Stilistika dilakukan dengan mengkaji berbagai bentuk dan tanda-tanda linguistik yang dipergunakan seperti yang terlihat pada struktur lahir. Dari kajian tersebut akan diperoleh bukti-bukti konkret tentang gaya sebuah karya puisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa stilistika adalah ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dan gaya dalam karya sastra (Zaidan, dalam Tarsyad, 2009: 2). Dari berbagai pengertian diatas, dapat disetujui bahwa stilistika merupakan ilmu yang mengkaji tentang penggunaan bahasa dan gaya dalam karya sastra. Bahasa tidak dapat dipisahkan dari sebuah karya sastra dan bahasa itu juga yang dapat mempengaruhi gaya seseorang dalam menciptakan serta membuat sebuah identitas di dalam karyanya.

Kajian stilistika sendiri seharusnya sampai pada dua hal, yaitu fungsi dan makna. Fungsi terbersit dari peranan stilistika dalam membangun karya puisi yang dikaji. Makna dicari melalui penafsiran yang dikaitkan ke dalam totalitas karya puisi yang dikaji pula. Dengan kajian stilistika, setiap puisi selain dikaji bahasa dan gayanya juga perlu dilakukan pembahasan yang lebih mengarah pada makna.

            Dengan stilistika, dapat diketahui makna puisi dan maksud penyair dalam setiap karyanya. Setiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda pada setiap karya, dengan menggunakan analisis stilistika tersebut dapat mempermudah dalam menemukan suasana, interpretasi, dan tema puisi. Berbicara mengenai tema, hal ini terkadang menjadi sesuatu yang relatif dalam karya sastra, khususnya puisi. Banyak sudut pandang yang berbeda dalam melihat tema pada karya sastra. Pada teori sastra ekpresivisme, dikatakan bahwa kuasa terbesar untuk menentukan isi dan makna puisi terdapat pada pembaca, termasuk juga untuk menentukan tema. Akan tetapi, persamaan sudut pandang bisa saja sama apabila menganalisisnya dengan cara yang sama pula, misalnya dalam mencari tema sebuah puisi dilakukan dengan melihat latar belakang penulis. Sebagai contoh, Chairil Anwar yang puisinya terkenal bertema nasionalisme. Hal ini didasarkan pada latar belakang beliau yang merupakan sastrawan pada periode 1945, pada saat Indonesia berjuang meraih kemerdekaan. Suasana tema tersebut dapat dilihat pada puisi Aku, Kerawang Bekasi, Diponegoro dan masih banyak lagi yang lainnya.

file lengkap di bawah ini:

DOWNLOAD

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Bahasa Indonesia. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s